Pernah merasakan nyeri punggung yang muncul tiba-tiba, terutama saat berdiri, berjalan, atau berpindah posisi? Jangan langsung menganggapnya sebagai pegal biasa. Pada kondisi tertentu, nyeri tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah pada tulang belakang, salah satunya compression fracture.
Compression fracture atau fraktur kompresi merupakan kondisi ketika tulang belakang mengalami retakan atau penurunan tinggi akibat tekanan yang melebihi kekuatan tulang. Kondisi ini sering ditemukan pada orang dengan osteoporosis, tetapi juga bisa terjadi akibat cedera atau kecelakaan.
Jika tidak ditangani dengan tepat, compression fracture dapat memengaruhi postur tubuh, membatasi aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan nyeri berkepanjangan. Lalu, apa saja penyebabnya, bagaimana mengenali gejalanya, dan apakah kondisi ini membutuhkan penggunaan brace? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Compression Fracture?
Compression fracture adalah kondisi ketika salah satu tulang penyusun tulang belakang, yang disebut vertebra, mengalami patah tekan atau kolaps sebagian. Akibatnya, tinggi tulang tersebut dapat berkurang dan bentuknya berubah.
Kondisi ini paling sering terjadi pada bagian tulang belakang tengah hingga bawah, terutama di area pertemuan tulang belakang dada dan pinggang.
Pada kasus ringan, seseorang mungkin hanya merasakan nyeri punggung. Namun, pada kasus yang lebih berat, perubahan bentuk vertebra dapat memengaruhi kelengkungan tulang belakang dan menyebabkan postur tubuh semakin membungkuk.
Compression fracture tidak selalu terjadi akibat benturan keras. Pada orang dengan tulang yang sudah melemah, tekanan dari aktivitas sehari-hari pun terkadang cukup untuk memicu patah tekan.
Apa Penyebab Compression Fracture?
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan tulang belakang mengalami compression fracture.
1. Osteoporosis
Osteoporosis merupakan salah satu penyebab utama compression fracture. Kondisi ini membuat kepadatan dan kekuatan tulang menurun sehingga tulang lebih mudah patah.
Pada orang dengan osteoporosis, patah tekan dapat terjadi setelah jatuh ringan atau saat melakukan gerakan sederhana, seperti membungkuk, memutar badan, bahkan batuk atau bersin.
Risiko osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada perempuan setelah menopause. Namun, osteoporosis juga dapat terjadi pada laki-laki dan kelompok usia lainnya.
2. Cedera atau kecelakaan
Benturan keras akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau cedera saat berolahraga dapat memberikan tekanan besar pada tulang belakang.
Jika tekanan tersebut melebihi kemampuan tulang untuk menahannya, vertebra dapat mengalami fraktur. Tingkat keparahannya bergantung pada mekanisme cedera dan kondisi tulang yang terkena.
3. Kondisi yang melemahkan tulang
Selain osteoporosis, beberapa penyakit tertentu, termasuk kanker yang menyebar ke tulang belakang, dapat melemahkan struktur tulang sehingga meningkatkan risiko fraktur.
Penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada sebagian orang.
Karena penyebabnya bisa berbeda-beda, pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan faktor yang mendasari compression fracture dan penanganan yang sesuai.
Apa Saja Gejala Compression Fracture?
Gejala compression fracture dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang mengalami nyeri cukup berat, sementara sebagian lainnya tidak merasakan keluhan yang jelas, terutama jika fraktur berkembang secara perlahan.
Berikut beberapa gejala yang perlu diperhatikan.
1. Nyeri punggung yang muncul tiba-tiba
Nyeri dapat terasa tajam atau menusuk di area tulang belakang yang mengalami fraktur. Pada kasus tertentu, rasa sakit muncul mendadak, sedangkan pada kasus lain berkembang secara bertahap.
2. Nyeri bertambah saat bergerak
Rasa sakit bisa semakin terasa saat berdiri, berjalan, membungkuk, mengangkat benda, atau berpindah posisi. Sebagian orang merasa lebih nyaman ketika berbaring.
3. Perubahan postur tubuh
Jika compression fracture terjadi pada beberapa ruas tulang belakang atau menyebabkan perubahan bentuk vertebra yang signifikan, punggung dapat terlihat semakin membungkuk ke depan. Perubahan ini dikenal sebagai kifosis.
4. Tinggi badan berkurang
Penurunan tinggi badan secara bertahap bisa menjadi salah satu tanda adanya fraktur kompresi, terutama pada orang dengan osteoporosis.
5. Kesemutan atau kelemahan anggota gerak
Pada fraktur tertentu, struktur saraf dapat ikut terdampak sehingga muncul kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada kaki.
Penting: Jika nyeri punggung muncul setelah kecelakaan atau jatuh, segera cari pertolongan medis. Kelemahan kaki yang baru muncul, mati rasa di area selangkangan, atau gangguan menahan buang air kecil maupun besar merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi darurat
Bagaimana Cara Mengatasi Compression Fracture?
Penanganan compression fracture disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Tidak semua fraktur membutuhkan operasi, tetapi semuanya perlu dievaluasi agar penanganannya tidak memperburuk cedera.
1. Pengobatan dan pengaturan aktivitas
Pada fraktur yang stabil, dokter dapat merekomendasikan obat untuk mengendalikan nyeri dan pengaturan aktivitas selama masa pemulihan.
Istirahat perlu disesuaikan dengan anjuran tenaga medis. Berbaring terlalu lama tanpa indikasi juga tidak ideal karena dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot dan kemampuan bergerak.
Hindari mengangkat beban berat, membungkuk berlebihan, atau melakukan gerakan memutar tubuh tanpa arahan medis selama masa pemulihan.
2. Penggunaan spinal brace atau orthosis
Pada pasien tertentu, dokter dapat merekomendasikan spinal brace atau orthosis tulang belakang untuk membantu membatasi gerakan tertentu, memberikan dukungan, dan mengurangi nyeri selama proses pemulihan.
Salah satu jenisnya adalah Thoracolumbosacral Orthosis (TLSO), yaitu brace yang mendukung area tulang belakang dada hingga pinggang. Untuk lokasi fraktur yang berbeda, jenis orthosis yang digunakan juga dapat berbeda.
Pemilihan brace perlu mempertimbangkan lokasi dan stabilitas fraktur, kondisi pasien, bentuk tubuh, serta tujuan penggunaannya. Lama pemakaian pun harus mengikuti arahan dokter dan evaluasi berkala.
Perlu dipahami bahwa brace bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan penyebab fraktur. Penggunaan brace yang tidak sesuai justru dapat membatasi gerak secara berlebihan atau menimbulkan masalah pada kulit.
3. Fisioterapi dan rehabilitasi
Setelah kondisi dinilai aman oleh dokter, program rehabilitasi dapat membantu pasien memulihkan kemampuan bergerak, menjaga kekuatan otot, dan kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap.
Jenis latihan dan waktu memulainya harus disesuaikan dengan tingkat penyembuhan fraktur. Latihan tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama pada fase awal ketika tulang masih dalam proses pemulihan.
4. Tindakan medis lanjutan
Jika nyeri tetap berat atau terdapat kondisi tertentu yang tidak membaik dengan penanganan konservatif, dokter dapat mempertimbangkan tindakan seperti vertebroplasti atau kifoplasti pada pasien yang sesuai.
Fraktur yang tidak stabil atau menyebabkan gangguan saraf mungkin membutuhkan evaluasi bedah tulang belakang. Keputusan ini bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi klinis pasien
Kesimpulan
Compression fracture adalah patah tekan pada tulang belakang yang dapat terjadi akibat osteoporosis, cedera, atau kondisi lain yang melemahkan tulang. Gejalanya dapat berupa nyeri punggung, perubahan postur, hingga penurunan tinggi badan.
Penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan fraktur. Pengobatan, pengaturan aktivitas, rehabilitasi, dan penggunaan spinal brace dapat menjadi bagian dari perawatan pada pasien tertentu.
Jika kamu atau anggota keluarga mengalami nyeri punggung yang tidak biasa, terutama setelah jatuh atau pada kondisi tulang yang rapuh, jangan menunda pemeriksaan. Diagnosis yang tepat membantu menentukan penanganan yang aman dan sesuai kebutuhan.
Butuh Orthosis yang Sesuai dengan Kebutuhanmu?
Ortholight Medika menyediakan layanan orthosis dan prosthesis yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Untuk mengetahui apakah spinal brace diperlukan pada kondisi compression fracture, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan tenaga profesional terkait.
Hubungi tim Ortholight Medika untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai layanan orthosis kami.
📞0811-1380-3793
📞0819-1001-1557
Referensi medis
- Cleveland Clinic. Compression Fractures. Baca sumber.
- American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Osteoporosis and Spinal Fractures. Baca sumber.
- Donnally CJ III, Margetis K, Varacallo MA. Vertebral Compression Fractures. StatPearls. Updated May 4, 2025. Baca referensi medis.
- Alsoof S, Anderson G, McDonald CL, et al. Diagnosis and Management of Vertebral Compression Fracture. The American Journal of Medicine. 2022;135(7):815–821. Baca jurnal di PubMed.