Hard Brace dan Soft Brace untuk Skoliosis: Mana yang Lebih Efektif?

Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang ditandai dengan kelengkungan ke samping disertai rotasi tulang belakang. Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak, remaja, hingga dewasa, dengan tingkat keparahan yang sangat bervariasi.

Salah satu metode penanganan non-operasi yang paling sering direkomendasikan dokter adalah penggunaan brace skoliosis.

Namun, di masyarakat sering muncul pertanyaan:

“Lebih efektif mana, hard brace atau soft brace?”

1. Hard Brace untuk Skoliosis

Hard brace adalah brace dengan material keras (thermoplastic) yang dibuat custom sesuai bentuk tubuh pasien.

Jenis yang paling umum digunakan secara medis antara lain:
• Boston Brace
• Cheneau Brace
• Milwaukee Brace 

Cara Kerja Hard Brace
Hard brace bekerja dengan prinsip three-point pressure system, yaitu :

✅ Memberikan tekanan pada sisi kurva utama

✅ Menahan sisi berlawanan sebagai penyeimbang

✅Mengontrol rotasi tulang belakang

Tekanan ini bersifat struktural dan terukur, sehingga mampu memengaruhi posisi tulang belakang secara biomekanik.

Manfaat Hard Brace

Terbukti secara ilmiah menahan progresivitas skoliosis

Efektif pada skoliosis derajat sedang

Direkomendasikan secara internasional

Dapat dikombinasikan dengan exercise khusus skoliosis

Kekurangan Hard Brace

• Membutuhkan masa adaptasi
• Harus digunakan sesuai jam anjuran (18–23 jam/hari pada remaja
• Membutuhkan kontrol dan evaluasi berkala

2. Soft Brace untuk Skoliosis

Soft brace terbuat dari bahan elastis dan fleksibel, biasanya berupa:

• Sabuk elastik
• Tali koreksi postur
• Dynamic brace seperti SpineCor

Brace ini lebih ringan dan terasa nyaman digunakan sehari-hari.

Cara Kerja Soft Brace

Berbeda dengan hard brace, soft brace bekerja dengan cara:
• Memberikan pengingat postur (postural cueing)
• Membantu aktivasi otot
• Mengarahkan posisi tubuh secara dinamis

Soft brace tidak memberikan tekanan struktural langsung ke tulang belakang.

Manfaat Soft Brace

Lebih nyaman dipakai

Cocok untuk aktivitas ringan

Membantu kesadaran postur

Keterbatasan Soft Brace

• Tidak mampu menahan progresivitas kurva secara signifikan

• Tidak memberikan koreksi struktural

• Efektivitas terbatas pada skoliosis ringan

• Tidak direkomendasikan sebagai terapi utama skoliosis remaja

📚 Studi BrAIST Trial (2013)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

Penggunaan hard brace secara konsisten secara signifikan menurunkan risiko progresivitas skoliosis hingga derajat operasi.

Pasien yang menggunakan brace lebih dari 18 jam per hari memiliki tingkat keberhasilan jauh lebih tinggi.

📚 Scoliosis Research Society (SRS)

Menurut penelitian ini :

• Hard brace sebagai standar emas (gold standard)

• Soft brace tidak direkomendasikan sebagai pengganti hard brace pada skoliosis struktural

📚 Penelitian Rowe et al.

Menunjukkan bahwa:

•Brace rigid mampu menurunkan risiko progresi hingga 40–60%

•Soft brace tidak menunjukkan hasil koreksi struktural yang konsisten

Peran Exercise Bersamaan dengan Brace

Brace saja tidak cukup.

Hasil terbaik diperoleh bila brace dikombinasikan dengan:

✅Exercise khusus skoliosis (misalnya metode Schroth)

✅Latihan pernapasan korektif

✅Penguatan otot postural

✅Edukasi aktivitas harian

Kombinasi ini terbukti membantu:

✅Adaptasi brace

✅Kenyamanan penggunaan

✅Stabilitas jangka panjang

Jadi, Mana yang Lebih Efektif?

Hard brace lebih efektif dibandingkan soft brace untuk mengontrol progresivitas skoliosis.

Namun, efektivitas brace tetap bergantung pada:

•Jenis skoliosis

•Usia pasien

•Derajat kelengkungan

•Kepatuhan pemakaian

•Kualitas brace yang dibuat custom

Kesimpulan

Hard brace → terapi utama non-operasi skoliosis

Soft brace → alat pendukung, bukan koreksi struktural

Pemilihan brace harus berdasarkan evaluasi profesional, bukan sekadar kenyamanan

Setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga brace yang tepat harus dibuat secara individual (custom-made).

Facebook
Twitter
LinkedIn
Scroll to Top