Banyak orang tua menganggap kebiasaan anak berjalan jinjit sebagai hal lucu atau kebiasaan sementara.
Padahal, jika berlangsung terus-menerus, berjalan jinjit bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem otot, saraf, hingga perkembangan motorik anak.
Tidak semua anak yang berjalan jinjit memiliki masalah serius, namun ada kondisi tertentu yang perlu mendapatkan evaluasi medis sejak dini.
Apa Itu Berjalan Jinjit?
Berjalan jinjit (toe walking) adalah kondisi ketika anak berjalan tanpa menapakkan tumit ke lantai, sehingga berat badan bertumpu pada ujung jari kaki.
Kondisi ini bisa muncul pada:
•Anak yang baru belajar berjalan
•Anak usia balita
•Anak usia sekolah yang masih mempertahankan pola jalan jinjit
Kapan Berjalan Jinjit Masih Normal?
Berjalan jinjit masih tergolong normal apabila:
•Usia anak di bawah 2–3 tahun
•Anak masih dalam fase belajar berjalan
•Anak masih bisa berdiri dan berjalan normal saat diminta
•Tidak disertai keluhan nyeri atau kekakuan
Biasanya, pola jalan akan membaik seiring perkembangan motorik anak.
❗ Kapan Harus Waspada?
Orang tua perlu waspada bila:
•Anak berjalan jinjit setelah usia 3 tahun
•Terjadi terus-menerus, bukan sesekali
•Anak tidak bisa menurunkan tumit sama sekali
•Otot betis terlihat tegang atau memendek
•Anak sering jatuh atau tampak tidak seimbang
•Disertai keterlambatan bicara atau motorik
•Jalan jinjit hanya di satu sisi kaki
Jika kondisi ini dibiarkan, dapat memicu gangguan postur dan fungsi gerak jangka panjang.
Penyebab Anak Sering Berjalan Jinjit
1. Idiopathic Toe Walking (ITW)
Penyebab paling umum.
Tidak ditemukan gangguan saraf, namun anak terbiasa berjalan jinjit hingga otot betis memendek.
2. Otot Betis dan Achilles Tendon Pendek
Pemendekan otot membuat tumit sulit menyentuh lantai.

Jika tidak ditangani, bisa menyebabkan:
•Kaki kaku
•Nyeri saat aktivitas
•Gangguan pola jalan permanen
3. Gangguan Neurologis
Pada beberapa kasus, berjalan jinjit dapat berkaitan dengan:
•Cerebral palsy ringan
•Gangguan saraf perifer
•Cedera otak ringan
4. Gangguan Sensorik (Sensory Processing Disorder)
Anak merasa tidak nyaman saat telapak kaki menyentuh lantai sehingga memilih berjalan jinjit.
5. Autism Spectrum Disorder (ASD)
Tidak semua anak dengan autisme berjalan jinjit, namun toe walking termasuk salah satu tanda yang sering ditemukan.
🔎Dampak Jika Dibiarkan Terlalu Lama
Jika tidak ditangani sejak dini, berjalan jinjit dapat menyebabkan:
•Pemendekan tendon Achilles permanen
•Nyeri tumit dan betis
•Gangguan keseimbangan
•Perubahan postur tubuh
•Risiko kelainan kaki dan lutut
•Gangguan aktivitas olahraga saat besar nanti
Bagaimana Cara Menangani Anak yang Sering Berjalan Jinjit?
Penanganan disesuaikan dengan penyebab dan usia anak, antara lain:
✅ 1. Evaluasi Medis Dini
Pemeriksaan oleh dokter rehabilitasi medik atau ortopedi anak sangat penting untuk menentukan penyebabnya.
✅ 2. Fisioterapi Anak

•Stretching otot betis
•Latihan keseimbangan
•Koreksi pola jalan
•Terapi sensorik (bila diperlukan)
✅ 3. Alat Bantu Ortotik (AFO / Orthopedic Shoe)
Digunakan untuk:
•Menjaga posisi kaki netral
•Mencegah pemendekan tendon
•Membantu koreksi pola berjalan
✅ 4. Monitoring Berkala
Anak perlu dipantau perkembangan sudut kaki, kekuatan otot, dan pola jalannya.
Semakin Dini Ditangani, Hasil Semakin Baik
Sebagian besar kasus berjalan jinjit dapat membaik tanpa operasi apabila ditangani sejak dini dengan terapi yang tepat.
❗️Penanganan yang terlambat justru meningkatkan risiko:
•Terapi lebih lama
•Pemakaian brace jangka panjang
•Tindakan medis lanjutan
Kesimpulan
Berjalan jinjit pada anak tidak selalu berbahaya, tetapi tidak boleh dianggap sepele. Jika kebiasaan ini menetap setelah usia 3 tahun atau disertai tanda lain, segera lakukan pemeriksaan agar tumbuh kembang anak tetap optimal.
Deteksi dini hari ini, cegah masalah gerak di masa depan 💪🏻
Konsultasi kebutuhanmu di Ortholight Medika
☎️0811-1380-3793
☎️0819-1001-1557