Secara medis, skoliosis memang memiliki faktor genetik, tetapi tidak selalu pasti diturunkan ke anak.
Penelitian menunjukkan bahwa:
• Anak yang memiliki orang tua dengan skoliosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami skoliosis dibandingkan anak tanpa riwayat keluarga.
• Namun tidak semua anak dari penderita skoliosis akan mengalami kondisi yang sama.
Artinya, faktor genetik bisa meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
Mengapa Skoliosis Bisa Terjadi dalam Satu Keluarga?
Para ahli percaya bahwa skoliosis dapat dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, seperti:
1. Faktor Genetik
Beberapa penelitian menunjukkan adanya pola keluarga pada skoliosis, terutama pada Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS).
2. Faktor Pertumbuhan Tulang
Skoliosis sering muncul saat masa pertumbuhan cepat (growth spurt) pada remaja.
3. Faktor Biomekanik
Ketidakseimbangan otot atau struktur tulang belakang juga dapat berperan.
Jika Orang Tua Skoliosis, Apa Anak Pasti Mengalami Hal yang Sama?
Tidak selalu.
Banyak orang tua dengan skoliosis yang memiliki anak dengan tulang belakang normal.
Namun, jika terdapat riwayat keluarga, pemeriksaan dini sangat dianjurkan, terutama saat anak memasuki usia sekolah.
Beberapa tanda awal yang perlu diperhatikan pada anak:
• Bahu terlihat tidak sejajar
• Salah satu tulang belikat lebih menonjol
• Pinggang tampak tidak simetris
• Tubuh terlihat condong ke satu sisi
Kesimpulan
Skoliosis memang memiliki faktor genetik, sehingga anak dari orang tua dengan skoliosis memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang sama. Namun, kondisi ini tidak selalu pasti diturunkan.
Yang paling penting adalah deteksi dini, terutama saat anak sedang dalam masa pertumbuhan. Dengan pemeriksaan yang tepat, skoliosis dapat ditangani lebih awal sehingga risiko perburukan dapat dikontrol.