Skoliosis adalah kondisi kelainan tulang belakang yang melengkung ke samping, membentuk huruf “S” atau “C”. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, fakta menariknya, skoliosis lebih sering ditemukan pada wanita, terutama saat masa pertumbuhan.
Berikut beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya:
Perbedaan anatomi
- Struktur vertebral
Wanita cenderung memiliki fleksibilitas tubuh yang lebih tinggi dibanding pria. Meskipun ini terlihat sebagai kelebihan, fleksibilitas yang tinggi juga dapat membuat stabilitas tulang belakang berkurang, sehingga lebih mudah mengalami kelengkungan. wanita dilahirkan dengan luas area vertebral yang lebih kecil, yang dapat menyebabkan peningkatan fleksibilitas tulang belakang, dan resiko kelainan bentuk tulang yang lebih tinggi seperti skoliosis.
- Sexual Dhimophism perbedaan anatomi, hal ini menyebabkan prevalensi gangguan tulang belakang yang lebih besar pada wanita.
Physiological faktor
- Pengaruh hormonal
Wanita mengalami perubahan hormon yang signifikan, terutama saat pubertas. Hormon seperti estrogen berperan dalam pertumbuhan tulang. perubahan hormon selama masa pubertas dapat memburuk kelengkungan tulang belakang, dengan skoliosis idiopatik remaja menunjukkan rasio perempuan dibanding lakilaki 5:1 hingga 3:1, meningkat seiring bertambahnya usia.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan hormon ini dapat memengaruhi perkembangan tulang belakang, sehingga meningkatkan risiko skoliosis.
- Kepadatan tulang
Perempuan dengan skoliosis sering menunjukkan kepadatan tulang yang lebih rendah , yang berkaitan dengan faktor hormonal dan status gizi
Faktor lingkungan
- Tingkat aktivitas : atlet wanita, terutama dalam balet, menunjukkan prevalensi skoliosis idiopatik yang lebih tinggi, berpotensi karena faktor faktor seperti massa tubuh yang rendah dan ketersediaan energi
- Menarche tertunda : studi menunjukkan korelasi antara skoliosis dan menarche tertunda , menunjukkan bahwa faktor hormonal mungkin berperan dalam perkembangan skoliosis
Sementara faktor faktor ini menyoroti alasan prevalensi skoliosis yang lebih tinggi pada wanita, penting juga untuk mempertimbangkan bahwa pria juga bisa mengalami skoliosi, meskipun pada tingkat lebih rendah.
Reference :
- Wren, T. A. L., Ponrartana, S., & Gilsanz, V. (2017). Vertebral cross-sectional area: An orphan phenotype with potential implications for female spinal health.
- Konieczny, M. R., Senyurt, H., & Krauspe, R. (2013). Epidemiology of adolescent idiopathic scoliosis.
- Carter, O. D., & Haynes, S. G. (1987). Prevalence for scoliosis in US adults: Results from the First National Health and Nutrition Examination Survey.
- Lambert, B. S., Haghshenas, V., Bondar, K., Hirase, T., Aflatooni, J. O., Harris, J. D., McCulloch, P. C., & Saifi, C. (2025). Increased prevalence of scoliosis in female professional ballet performers