Skoliosis sering kali dikira hanya terjadi pada anak-anak atau remaja. Padahal, kondisi ini juga bisa dialami oleh orang dewasa. Pertanyaannya, mana yang lebih berisiko mengalami penambahan derajat kelengkungan—remaja atau dewasa?
Yuk, kita bahas secara jelas supaya kamu lebih paham kapan harus mulai waspada.
Skoliosis pada Remaja (Adolescent Idiopathic Scoliosis)
Skoliosis paling sering muncul pada usia 10–18 tahun, dikenal sebagai adolescent idiopathic scoliosis.
Kenapa lebih berisiko bertambah?
Pada masa remaja, tubuh sedang mengalami growth spurt (pertumbuhan pesat). Tulang belakang masih aktif berkembang, sehingga:
- Kurva skoliosis bisa bertambah dengan cepat
- Perubahan bisa terjadi dalam hitungan bulan
- Semakin muda usia, semakin tinggi risiko progresi
👉 Artinya, remaja adalah kelompok dengan risiko peningkatan derajat paling tinggi, terutama jika tidak ditangani sejak awal.
Skoliosis Dewasa
Pada orang dewasa, skoliosis bisa berasal dari:
- Kelanjutan skoliosis sejak remaja
- Atau muncul karena degenerasi tulang belakang (penuaan)
Apakah masih bisa bertambah?
Jawabannya: bisa, tapi biasanya lebih lambat.
Faktor yang memengaruhi:
- Keausan disk dan sendi tulang belakang
- Penurunan kepadatan tulang
- Kebiasaan postur dan aktivitas
Pada dewasa, keluhan lebih sering berupa:
- Nyeri punggung
- Cepat lelah saat berdiri lama
- Keterbatasan aktivitas
Kesimpulan
Skoliosis bisa terjadi di usia berapa pun, tapi risikonya berbeda.
- Remaja → lebih berisiko bertambah cepat karena masih dalam masa pertumbuhan
- Dewasa → tetap bisa bertambah, tapi biasanya lebih lambat dan dipengaruhi faktor degeneratif
Yang paling penting adalah deteksi dan penanganan lebih awal, karena semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk mengontrol perkembangan skoliosis.